Biografi, Perjalanan Hidup dan Karya Ibnu 'Atha'illah Assakandari

Advertisemen
Biografi, Perjalanan Hidup dan Karya Ibnu 'Atha'illah Assakandari - Di Islam, dalam perjalanan perkembangannya, ada banyak sekali tokoh Islam dilahirkan dengan berbagai disiplin cabang ilmu Islam. Ada ahli fikih, ahli teknologi dan beberapa cabang ilmu Islam lainnya. Salah satu cabang ilmu Islam diantaranya adalah ilmu tasawuf. Salah satu nama yang populer dalam cabang ini adalah Ibnu 'Atha'illah Assakandari. Ibnu 'Atha'illah adalah seorang ulama yang memiliki karya kitab yang sangat populer yang bernama Al Hikam. Kitab karya Ibnu 'Atha'illah ini berisikan tentang ilmu-ilmu sufi dan bagaimana mendekatkan diri dengan Allah. Biografi Ibnu 'Atha'illah sendiri termasuk sangat populer dan banyak orang baik di luar Indonesia maupun yang ada di Indonesia yang mencarinya.

Biografi Ibnu 'Atha'illah Assakandari
Biografi Ibnu 'Atha'illah Assakandari (Ilustrasi)

Terlebih lagi para pecinta dunia sufistik, tentu akan sangat tertarik dengan profil maupun biografi dari Syeikh Ibnu 'Atha'illah Assakandari ini. Ibnu 'Athaillah Assakandari adalah seorang tokoh Sufi yang hidup pada masa kekuasaan Dinasti Mameluk. Beliau dilahirkan di kota Alexandria atau Iskandariyah yang kemudian eliau pindah ke Kairo Mesir. Seperti lazim pada beberapa nama ulama pada jaman dahulu, di belakang namanya selalu ditempelkan nama yang merupakan rujukan dari tempat kota kelahirannya. Sama halnya dengan Ibnu Athaillah Assakandari, nama Assakandari merupakan rujukan dari kota kelahirannya Alexandria.

Di Kairo inilah kemudian Syaikh Ibnu Athaillah mendalami dan menghabiskan hidupnya untuk mengajar ilmu fikih madzhab Imam Maliki di berbagai lembaga intelektual seperti di Mesjid Al-Azhar. Selain ahli di bidang fikih, Ibnu 'Athaillah juga ahli dan bidang tasawuf, bahkan beliau diakui sebagai seorang ahli atau master pada bidang tasawuf dan menjadi syaikh ke tiga d i kalangan tarekat Syadziliyah.

Perjalanan hidup Ibnu 'Atha'illah Assakandari memang sejak kecil adalah seorang anak yang sangat gemar belajar. Beliau menimba ilmu pada beberapa guru secara bertahap dengan berbagai bidang disiplin ilmu Islam. Diantara guru beliau yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri tarikat Al-Syadzili. Pada bidang fiqih, Syaih Ibnu 'Athaillah Assakandari adalah penganut madzhab Maliki, sedangkan pada bidang taswuf, beliau adalah penganut sekaligus pengikut dan menjadi tokoh dari tarekat Syadzaliah.

Syaikh Ibnu 'Atha'illah termasuk ulama yang sangat produktif dalam menulis kitab. Ada banyak karya Ibnu 'Athai'llah yang sudah ditulis, tak kurang ada 20 karya tulis yang sudah dihasilkan oleh Syaikh Ibnu 'Atha'llah Assakandari. Karya yang paling fenomenal tentu saja adalah Al Hikam yang merupakan karya tulis yang menjadi pegangan bagi para pecinta dunia tasawuf. Kitab Al Hikam ini sudah beberapa kali disyarah seperti oleh Muhammad bin Ibrahim ibn Ibad ar Rundi, Syaikh Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibn Ajiba. Pada dasarnya, Ibnu 'Atha'illah memiliki karya bukan saja pada bidang Tasawuf, namun beliau juga memiliki banyak karya lain yang membahas berbagai bidang seperti bidang hadits, nahwu, dan ushul fiqh.

Beberapa karya Ibnu 'Atha'illah Assakandari yang lainnya adalah Al-Tanwir fi Isqath al-Tadbir, ‘Unwan at-Taufiq fi’dab al-Thariq, miftah al-Falah dan al-Qaul al-Mujarrad fil al-Ism al-Mufrad. Dan, karya yang terakhir ini adalah merupakan tanggapan terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang membahas mengenai persoalan Tauhid. Seperti yang sudah banyak dijelaskan dalam sejarah Islam, bahwa kedua tokoh besar Islam tersebut hidup sejaman. Namun demikian, kedua tokoh Islam tersebut memiliki pandangan yang berbeda dalam Islam. Mereka berdua selalu terlibat dalam perdebatan dan diskusi yang dalam terkait perbedaan pendapat tersebut. Ibnu Taimiyyah merupakan tokoh Islam yang sangat tidak suka dan tidak menyukai praktek Sufisme. Namun Ibnu 'Atha'llah Assakandari adalah seorang tokoh Islam yang menganggap jalan Sufi adalah jalan kebenaran.

Kedua tokoh ini sering terlibat dalam diskusi panjang dan dalam, namun tetap dengan keadaan yang sangat santun. Kedua ulama tersebut bahkan dalam perbedaan pendapatnya tersebut masih bisa tertawa bersama. Bahkan, ketika kedua beliau saling bertanya tentang masing2 dari beliau, mereka berdua selalu memberikan sanjungan yang begitu indah dan penuh dengan koehormatan.

Ibn Athaillah: Apa yang anda ketahui tentang aku, syaikh Ibn Taymiyah?
Ibn Taymiyah : Aku tahu anda adalah seorang yg saleh, berpengetahuan luas, dan senantiasa berbicara benar dan tulus. Aku bersumpah tidak ada orang selain anda, baik di Mesir maupun Syria yang lebih mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di (hadapan) Allah atau lebih patuh atas perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Begitu diantara diskusi dari mereka berdua. Dan beberapa waktu, Ibnu Taimiyah menyebutkan :

“Saya hanya menginginkan agar para sufi melangkah di jalan para salaf yang agung itu, yaitu para zahid sahabat, tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya. Saya menghormati mereka yang berbuat demikian dan menurut saya mereka itu termasuk para imam agama.”

Kembali kepada biografi Syeikh Ibnu 'Atha'illah Assakandari, beliau adalah ulama yang dilahirkan di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/ 1250 M, dan meninggal di Kairo pada 1309 M. Sebagai seorang tokoh tarekat Syadziliyah, beliau menjadi panutan pengikutnya yang ingin mendekatkan diri dengan Allah. Di lingkungan Tarekat Syadziliyah, beliau termasuk tokoh besar dan menjadi imam ke tiga setelah pendirinya Abu al Hasan Asy Syadzili dan penerusnya Abu Al Abbas Al Mursi. Nah, Syaikh Ibnu 'Atha'illah Assakandari inilah yang kemudian mengumpulkan bigrafi Hasan Asy Syadzili dan Abu Abbas Al Mursi dan sekaligus yang menghimpun pesan-pesan dan doa-doa dari mereka agar ajaran tarekat Asyadziliyah tetap terjaga dan terpelihara.

Keluarga Syeikh Athoillah Assakandari adalah keluarga ahli ibadah dan ahli ilmu, kakek dan ayah Ibnu 'Atha'illah Assakandari adalah seorang ulama yang ahli di berbagai cabang ilmu Islam. Tak heran jika Atho' juga tumbuh sebagai seorang faqih yang membuat bangga pendahulunya. Namun dalam perjalanannya kemudian kakeknya tidak setuju dengan pemikiran Syeikh 'Athoillah Assakandari yang berkembang menuju kepada dunia tasawuf. Perjalanan hidup Ibnu 'Atho'illah Assakandari menurut beberapabiografi kemudian dibagi menjadi beberapa bagian karena pengaruh beberapa ilmu yang beliau pelajari.

Biografi Ibnu 'Atha'illah Assakandari Masa Pertama

Masa pertama ini diawali ketika beliau masih tinggal di Alexandria sebagai seorang yang mencari ilmu. Beliau menuntut banyak ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul nahwu dan masih banyak lagi yang lainnya. Beliau memperoleh ilmu dari banyak ulama di Iskandariyah termasuk kakeknya juga. Pada saat itu, pemikiran beliau masih terpengaruh dengan pemikiran kakeknya yang meningkari ahli tasawuf. Hal ini bisa terjadi karena adanya kefanatikan pada ilmu fiqih. Ibnu 'Atha'illah Assakandari sendiri pernah berkata bahwa beliau dulu termasuk orang yang ingkar terhadap Abu Abbas Al Mursi yang nantinya menjadi gurunya. Pendapat 'Atha'illah pada saat itu adalah hanya ada ulama ahli dzahir saja.

Pada waktu itu, para ulama ahli tasawuf mengklaim bahwa ada banyak hal besar yang terjadi sementara para ulama ahli dzahir syariat menentangnya. Memang pada zaman itu banyak terjadi pertentangan antara ahli sufi dan para ulama ahli syariat. Ulama ahli syariat yang menentang praktik sufi diantaranya adalah kakek Ibnu 'Athaillah Assakandari sendiri.

Biografi Ibnu 'Atha'illah Assakandari Masa Kedua

Perjalanan hidup ahli sufi ini kemudian berkembang pada masa ke dua, dimana merupakan masa yang paling krusial dalam hidupnya. Masa inilah yang dianggap sebagai masa yang paling penting dalam kehidupan Ibnu 'Atha'illah Assakandari. Masa ini bermula ketika beliau bertemu dengan gurunya yaitu Abu al-Abbas al-Mursi pada tahun 674 H yang kemudian membawanya pindah ke Kairo. Pada masa inilah keyakinan 'Atho'illah tumbuh terhadap ajaran tasawuf. Beliau begitu kagum terhadap gurunya Al Mursi, dan kemudian beliau mengambil Thariqoh langsung pada beliau geurunya Abul Abbas al-Mursi.

Ada kisah menarik yang terjadi pada 'Athoillah ketika beliau merasa bimbang dan batinnya tergoncang begitu dahsyat. Ada banyak pertanyaan di dalam batinnya yang berkecamuk dan membuatnya selalu tertekan :

“apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.

Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.

Maka ketika 'Athaillah sudah merasakan manisnya tasawuf, beliau kemudian mempunyai pikiran untuk fokus kepada tasawuf. Artinya beliau ingin meninggalkan semua hal dan meninggalkan aktivitas dunia kemudian hanya menjalankan tasawuf saja. Namun kemudian beliau tidak berani melangkah dan memutuskan sebelum bertanya kepada gurunya yaitu Al Mursi.

Pada kejadian ini, 'Athaillah kemudian menceritakan :

“Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir.

Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”.

Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”.

Biografi Ibnu 'Athaillah Assakandari Pada Masa Ketiga

Masa ketiga ini berawal ketika Ibnu 'Atha'illah pindah ke Kairo dan berakhir ketika beliau meninggal pada tahun 709 H. Masa ini bisa dikatakan sebagai masa kesempurnaan dan kematangan Athaillah dalam ilmu tasawuf maupun ilmu Fiqih. Sepeninggal gurunya yaitu Al Mursi, Ibnu 'Athaillah menjadi pengganti penerus dan pengembang Tariqah Syadzaliah. Disamping beliau bertugas mengajar di kota Iskandariyah, beliau juga mengajar dan mengisi ceramah di Masjid Al Azhar.

Selain di tempat tersebut, Syeikh 'Athaillah Assakandari juga mengajar di Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Diantara murid beliau yang berhasil menjadi seorang ahli fiqih dan ahli tasawuf adalah Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”. Sebenarnya, Ibnu 'Athaillah bukan saja ahli dalam bidang tasawuf, kitab karangan Ibnu 'Athaillah pun juga sangat banyak dan beragam, bukan saja berisi megenai dunia tasawuf. Namun diantara sekian banyak kitab yang beliau karang, kitab Al Hikam lah yang paling populer dan membuat namanya dikenang sampai sekarang.

Kitab Ibnu 'Atha'illah Assakandari Al Hikam itu begitu fenomenal dan terkenal. Kitab tersebut sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan juga banyak para ulama yang membuatkan syarah untuk Al Hikam. Dari kitab Al Hikam tersebut kemudian muncul banyak kata mutiara Ibnu 'Athaillah yang dijadikan rujukan oleh masyarakat pada umumnya. Quote-quote Ibnu 'Athaillah juga banyak diambil dari kitab karya Ibnu 'Athaillah Al Hikam tersebut.

Nah saudara-saudaraku semua, itulah sedikit informasi terkait biografi Ibnu 'Atha'illah yang bisa kami sampaikan untuk Anda semua. Semoga sedikit informasi tentang biografi Ibnu 'Athaillah di atas bisa menambah pengetahuan dan wawasan kita terkait tokoh-tokoh Islam di dunia terutama untuk Ibnu 'Atha'llah sendiri. Jika ada sedikit kekurangan atau kesalahan pada informasi biografi Ibnu 'Atha'illah di atas, kami mohon kiranya para pembaca sekalian berkenan untuk memberikan koreksi melalui kolom komentar yang sudah kami sediakan.
Advertisemen

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments