Advertisemen
Profil, Perjalanan Hidup, Biografi dan Kitab Karya Imam Syafi'i -
Islam sebagai agama dengan penganut yang paling besar di dunia, tentu memiliki
perjalanan yang sangat luar biasa sampai kepada titik seperti saat ini. Dibalik
kesuksesan Islam menjadi agama yang paling banyak dipeluk masyarakat dunia,
pasti ada tokoh dan orang-orang penting yang memiliki peran penting. Memang
dalam perjalanan perkembangan Islam, ada banyak tokoh Islam yang berpengaruh
dalam perkembangan Islam itu sendiri. Masing-masing tokoh Islam tersebut
memiliki keahlian dan bidang ilmu yang berbeda-beda, karena memang Islam
memiliki cabang ilmu yang juga cukup banyak. Ada cabang ilmu hadith, fiqih,
teknologi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Pada masing-masing cabang ilmu tersebut pasti memiliki tokoh yang ahli
dibidangnya. Salah satu tokoh besar Islam yang memiliki pengaruh sangat besar
di dunia bahkan sampai saat ini adalah Imam Syafi'i. Imam Syafi'i adalah
termasuk salah satu dari Imam Madzhab empat yang sangat populer itu. Imam
Syafi'i adalah imam yang memiliki penggikut yang paling banyak diantara yang
lainnya. Pemikiran-pemikiran Imam Syafi'i banyak dijadikan sebagai rujukan oleh
banyak orang sejak jaman dahulu sampai sekarang. Karya dan kitab Imam Syafi'i
bahkan sampai sekarang masih dijadikan bahan kajian dan bahan rujukan dalam
berbagai masalah dalam agama Islam. Dalam dunia Islam, biografi Imam Syafi'i
termasuk salah satu tokoh Islam yang paling banyak dicari referensinya. Hal ini
tentu saja berhubungan dengan pemikiran Imam Syafi'i yang selalu menjadi bahan
diskusi menarik sampai saat ini.
Perjalanan hidup dan biografi Imam Syafi'i selalu menarik untuk kita
kulik, maka dari itu pada kesempatan kali ini kami akan menyajikan biografi Imam
Syafi'i dan perjalanan hidup Imam Syafi'i untuk Anda.
Profil dan Biodata Imam Syafi'i
Nama lengkap : Abu Abdillah Muhammad bin Idris As-Syafi'i Al-Muttalibi
Al-Qurashi
Nama gelar kehormatan : Alimul Ashr, Nashirul Hadits, Imam Quraish,
Al-Imam Al-Mujaddid, Faqihul Millah
Tempat lahir : Gaza, Palestina.
Tanggal lahir : tahun 767 M / 150 H.
Wafat : Akhir malam Rajab tahun 820 M / 204 H.
Tempat wafat : Kairo, Mesir.
Aliran Islam : Ahlussunnah Wal Jamaah
Nama Ayah : Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi' bin As-Saib bin
Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al-Muttalib bin Abdu Manaf.
Nama Ibu : Fatimah binti Abdullah Al-Uzdiyah.
Nama Putra : Abu Utsman dan Abul Hasan
Nama Putri : Fatimah dan Zainab
Perjalanan Hidup Imam Syafi'i
Imam Syafi'i adalah seorang ulama agung di dunia Islam, banyak
pemikiran Imam Syafi'i yang menjadi rujukan dan pijakan dalam menjalankan agama
Islam sampai saat ini. Banyak ahli sejarah menyebutkan bahwa Imam Syafi'i
dilahirkan di Gaza, Palestina. Namun sebagian yang lain menyebutkan bahwa Imam
Syafi'i dilahirkan di Asqalan yang merupakan kota dengan jarak sekitar tiga
farsakh dari Gaza. Menurut beberapa ahli sejarah, Imam Syafi'i dilahirkan pada
tahun 150 H yang mana pada tahun itu juga meninggal seorang ulama besar Sunni
yaitu Imam Abu Hanifah. Tentang kelahiran dan kejeniusan Imam Syafi'i ini, Imam
Ahmad bin Hambal bahkan menyebutnya sebagai seorang yang termasuk dalam orang
yang dilahirkan dalam seratus tahun sekali sebagai seseorang yang aan
mengajarkan Sunnah dan menyingkirkan pendusta terhadap Rasulullah SAW.
Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan
pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan
menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin
Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah SWT menakdirkan Imam
Asy-Syafi`i."
Imam Syafi'i Menuntut Ilmu di Makkah
Meski Imam Syafi'i dilahirkan di Palestina, perjalanan hidup dalam
menepuh ilmu nya, Imam Syafi'i selalu melanglang buana untuk mendapatkan ilmu
Islam dari banyak guru. Imam Syafi'i pernah belajar di Mekkah, di Madinah, di
Yaman dan juga bahkan di Baghdad Iraq. Pada masing-masing daerah yang dikunjungi
tersebut, Imam Syafi'i biasanya tidak hanya menuntut ilmu pada seorang guru,
namun ada beberapa guru untuk beliau.
Perjalanan Imam Syafi'i ke Mekah adalah bermula ketika dua tahun
setelah masa kelahirannya, Imam Syafi'i kecil dibawa oleh ibunya pergi ke
Mekkah, pada saat itu Imam Syafi'i adalah seorang anak yatim karena ayahandanya
telah meninggal dunia. Sejak saat masih kecil memang kecerdasan Imam Syafi'i
sudah terlihat, beliau senang dan cepat menghafal syair bahasa Arab. Di Mekkah
sendiri, Imam Syafi'i belajar fiqih kepada seorang mufti yang bernama Muslim
bin Khalid Az Zanji. Bahkan sang guru tersebut telah memberikan izin kepada
Imam Syafi'i untuk memberikan fatwa sejak Imam Syafi'i masih berusia 15 tahun.
Ketertarikan Imam Syafi'i terhadap ilmu fiqih memang sangat tinggi,
sehingga semenjak masih kecil beliau selalu merasa haus dengan ilmu
Fiqih.Diantara guru-guru Imam Syafi'i di Mekkah adalah Dawud bin Abdurrahman
Al-Atthar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ dan juga Sufyan bin Uyainah. Selain
mereka, beberapa guru yang lain adalah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki,
Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl.
Imam Syafi'i Belajar di Madinah
Selain di Makkah, Imam Syafi'i juga menuntut ilmu dan belajar di
Madinah. Di Madinah, Imam yafi'i berguru fiqih langsung kepada Imam Malik bin
Anas. Kepada Imam Malik, Imam Syafi'i menkaji kitab Al Muwattha' dan beliau
mampu manghafal kitab Al Muwattha' dalam waktu 9 malam. Imam Syafi'i dalam
meriwayatkan hadith dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin Iyadl dan pamannya,
Muhamad bin Syafi’ dan lain-lain. Kecerdasan Imam Syafi'i ini membuat Imam
Malik sangat kagum dan resepk kepada beliau. Di lin pihak, Imam Syafi'i juga
sangat mengagumi gurunya tersebut yaitu Imam Syafi'i dan juga Imam Sufyan bin
Uyainah di Makkah.
Kekaguman Imam Syafi'i terhadap Imam Malik ini beliau ungkapkan dalam
beberapa kesempatan. Pernyataan Imam Syafi'i yang terkenal atas kekagumannya
terhadap Imam Malik adalah : “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan
bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.”
Di kesempatan yang lain, Imam Syafi'i juga mengatakan :
“Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang
di majelis itu.”
Selain kepada personalnya, Imam Syafi'i juga sangat terkesan dengan
karya Imam Malik. Beliau berkata :
“Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari
kitab Al-Muwattha'."
Imam Syafi'i juga mengatakan :
“Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah
pemahamanku.”
Dari beberapa ungkapan di atas, tentu saja adalah merupakan sebuah
ungkapan kekaguman Imam Syafi'i terhadap Imam Malik gurunya. Selain berguru
kepada Imam Malik dan Imam Sufyan bin Uyanah, beliau juga berguru kepada banyak
ahli yang lainnya. Diantaranya adalah Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far,
Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Ia banyak pula menghafal ilmu di
majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Namun pada akhirnya, Imam Syafi'i tidak
pernah lagi mengambil berbagai periwayatan ilmu dari Ibrahim bin Abi Yahya
karena ia adalah seorang yang menganut madzhab Qadariyah dan masih banyak
penyimpangan fatal yang lainnya.
Imam Syafi'i Belajar di Yaman, Baghdad dan Mesir
Ternyata, selain Imam Syafi'i belajar agama Islam di Makkah dan
Madinah, beliau juga belajar Islam di Mesir, di Yaman dan di Baghdad Iraq. Di
Yaman, Imam Syafi'i kabarnya hanya belajar sebenatar sambil bekerja. Di Yaman,
diantara gurunya adalah Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan
banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, kemudian Imam Syafi'i kemudian
melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya ke Baghdad Iraq pada tahun 183 dan
tahun 195. Di Baghdad, beliau berguru kepada Muhammad bin Hasan. Setelah dari
Bagdad, Imam Syafi'i kemudian melanjutkan perantauannya ke Mesir. Di Mesir,
Imam Syafi'i bertemu dengan murid dari Imam Malik bin Anas yaitu Muhammad bin
Abdillah bin Abdil Hakim.
Di Baghdad inilah Imam Syafi'i menulis madzhab lamanya atau qoul
qodim, dan kemudian pindah ke Mesir pada tahun 200 H dan menulis madzhab baru
atau qoul jadid. Dan, akhir dari perjalanan hidup dari Imam Syafi'i adalah pada
akhir bulan Rajab 204 H, beliau meninggal dunia sebagai seorang syuhadaul ilm.
Dalam beberapa sejarah menyebutkan bahwa Imam Syafi'i menderita penyakit
ambeien sehingga membuat beliau wafat di Mesir pada malam Jum'at sesudah shalat
Maghrib. Makamnya berada di kota Kairo, di dekat masjid Yazar, yang berada
dalam lingkungan perumahan yang bernama Imam Syafi`i.Sampai saat ini beliau
selalu dikenang sebagai seorang tokoh Islam, ulama, ahli ilmu dan seorang yang
zuhud sehingga banyak sekali orang yang selalu membicarakan biografi Imam
Syafi'i.
Beberapa Guru Imam Syafi'i
Guru Imam Syafi'i Di Mekkah
1.Muslim bin Khalid az Zanji
2.Ismail bin Qusthain
3.Sofyan bin Ujainah
4.Sa’ad bin Abi Salim al Qaddah
5.Daud bin Abdurraman al’Athar
6.Abdullhamid bin Abdul Aziz
Guru Imam Syafi'i Di Madinah
1.Imam Malik bin Anas ( pembangun mazhab maliki)
2.Ibrahin bin Sa’ad al Anshari
3.Abdul ‘Aziz bin Muhammad ad Darurdi
4.Ibrahim Ibnu Abi Yahay al Asaani
5.Muhammad bin Sa’id
6.Abdullah bin Nafi
Guru Imam Syafi'i Di Yaman
1.Mathraf bin Mazin
2.Hsyam bin Abu Yusuf Qadli Shan’a
3.Umar bin Abi Salamah (pembangun mazhab Auza’i)
4.Yahya bin Hasan ( pembangun Mazhab Leits)
Guru Imam Syafi'i Di Iraq
1.Waki’ bin Jarrah
2.Humad bin Usamah
3.Isma’il bin Ulyah
4.Abdul Wahab bin Hasan
5.Muhammad bin Hasan
6.Qadhi bin Yusuf
Kitab-kitab Karya Imam Syafi`i
1. Al-Risalah al-Qadimah (kitab al-Hujjah)
2. Al-Risalah al-Jadidah.
3. Ikhtilaf al-Hadits.
4. Ibthal al-Istihsan.
5. Ahkam al-Qur`an.
6. Bayadh al-Fardh.
7. Sifat al-Amr wa al-Nahyi.
8. Ikhtilaf al-Malik wa al-Syafi`i.
9. Ikhtilaf al- Iraqiyin.
10. Ikhtilaf Muhammad bin Husain.
11. Fadha`il al-Quraisy
12. Kitab al-Umm
13. Kitab al-Sunan
Demikianlah sedikit informasi yang bisa kami sampaikan tentang
biografi Imam Syafi'i dan perjalanan hidup Imam Syafi'i. Semoga sedikit informasi
mengenai biografi Imam Syafi'i dan perjalanan hidup Imam Syafi'i bisa menambah
wawasan dan referensi kita terhadap beberapa tokoh Islam yang memang harus juga
kita pahami.
Advertisemen
